Kemana Mata Memandang Ketika Salat di Depan Ka’bah?

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Sahabat Hikmah, salat di depan Ka’bah adalah pengalaman spiritual yang begitu langka. Banyak jamaah merasakan ketenangan mendalam saat berada di hadapan kiblat umat Islam seluruh dunia. Namun, sering muncul pertanyaan: ke mana seharusnya mata memandang ketika salat di depan Ka’bah? Artikel ini akan membantu Anda untuk menemukan jawabannya.

Pandangan Mata dalam Salat

Dalam salat, para ulama sepakat bahwa pandangan mata sebaiknya fokus pada tempat sujud. Hal ini membantu menjaga kekhusyukan, mencegah pandangan berkelana, dan menghadirkan hati sepenuhnya hanya untuk Allah.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan bahwa “disunnahkan melanggengkan mata ke arah tempat sujud supaya lebih khusyuk sekalipun tunanetra, sedang salat dekat Ka’bah, salat di tempat yang gelap, ataupun salat jenazah. Namun disunnahkan mengarahkan pandangan ke jari telunjuk, terutama ketika mengangkat jari telunjuk saat tasyahud, karena ada dalil shahih tentang kesunahan itu.” (Fath Al Mu’in, hlm. 145)

Bagaimana Jika Salat Tepat di Depan Ka’bah?

Ketika berada di Masjidil Haram, sebagian jamaah merasa ingin memandang Ka’bah karena keagungan dan rasa rindu. Terdapat perbedaan dengan pendapat para Jumhur Ulama, Ada yang memperbolehkan memandang Ka’bah, adapula yang menganjurkan untuk tetap memandang tempat sujud.

Alasannya, kekhusyukan adalah tujuan utama salat. Mata yang fokus pada tempat sujud akan membantu hati lebih tunduk, tenang, dan tidak terganggu oleh keramaian.

Ibnu Katsir mencantumkan dalam kitab Tafsir Ibn Katsirnya, sekaligus membahas mengenai perbedaan ulama itu, sebagai berikut: “Mazhab Malikiyah berpendapat berdasarkan ayat ini bahwa orang yang shalat harus memandang ke depan, bukan ke arah tempat sujudnya seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah. Mazhab Maliki mengatakan bahwa jika orang yang shalat memandang ke arah tempat sujudnya, maka ia harus menundukkan kepalanya, yang dapat mengganggu kekhusyukan shalatnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang shalat harus memandang ke arah dadanya. Sementara itu, pendapat Syariik al-Qadhiy menyatakan bahwa orang yang shalat harus memandang ke arah tempat sujudnya seperti yang dikatakan oleh mayoritas ulama, karena hal ini lebih mendalam dalam hal kepatuhan dan lebih besar dalam hal kekhusyukan. Adapun ketika rukuk, maka orang yang shalat harus memandang ke arah telapak kakinya. Ketika sujud, maka ia harus memandang ke arah ujung hidungnya. Ketika duduk, maka ia harus memandang ke arah pangkuannya.”

Apakah Boleh Sesekali Memandang Ka’bah?

Sebagian ulama membolehkan memandang Ka’bah di luar gerakan salat, misalnya saat berdiri sebelum takbiratul ihram, untuk menghadirkan rasa takjub dan syukur. Namun ketika salat sudah berlangsung, lebih baik kembali kepada pandangan ke tempat sujud.

Demikianlah artikel mengenai kemana mata memandang saat salat di depan Ka’bah. Salat di depan Ka’bah adalah anugerah besar. Namun, keindahan ibadah tidak hanya terletak pada tempatnya, melainkan pada kekhusyukan hati. Karena itu, ketika salat di depan Ka’bah, hadirkanlah kekhusyukan dengan memandang tempat sujud. biarkan hati yang memandang Ka’bah, dan biarkan jiwa merendah di hadapan Allah. (Noviana)

Umrah Arbain menawarkan perjalanan spiritual yang lebih lama dan sarat makna. Kuota program ini terbatas! Yuk, segera daftarkan diri Anda dan keluarga.

UMROH ARBAIN — UMROH RASA HAJI 16 HARI ❕
📆 31 Maret – 15 April 2026
💰 Rp. 34,150,000 (Quad)
✈️ IndiGo Airlines

Kenapa memilih Hikmah Tour Travel?
✅ Program Arbain (sholat 40 waktu di Masjid Nabawi)
✅ Bimbingan ibadah lengkap
✅ Hotel dekat & nyaman (Madinah & Makkah)
✅ Tour Madinah & Makkah
🎁 FREE City Tour Thaif